Howdy, thank's visit to my blog, Enjoy the read and welcome to the journey!

Ayu dan Ara telah bersahabat sejak kecil, rumah mereka cukup berdekatan, mereka selalu bersama, bermain, belajar, hingga berbagi cerita, mereka saling memahami tanpa perlu banyak kata, namun, kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang mereka inginkan.

Saat Ara menginjak kelas lima, sesuatu yang tak terduga terjadi, ayah Ara mendapat kesempatan bekerja di luar negeri, dan Ara harus ikut bersamanya, mau tidak mau, Ara terpaksa meninggalkan desanya, termasuk meninggalkan Ayu, Sebelum berangkat, Ara memeluk Ayu erat, matanya berkaca-kaca.

“So long,” katanya dengan suara bergetar, “Sampai jumpa, Ayu, suatu saat kita pasti bertemu lagi.”

Ayu hanya bisa mengangguk, merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, setelah kepergian Ara, tak ada kabar apa pun, tidak ada surat, telepon, atau pesan singkat, di masa itu, teknologi belum ada seperti zaman sekarang, tidak ada jejaring sosial seperti facebook, twitter, instagram maupun whatssapp, ayu merasa kehilangan sahabat terbaiknya.

Waktu terus berlalu, ayu tumbuh dewasa, namun rasa rindu pada Ara tetap ada, Meski banyak teman yang silih datang dan pergi dalam hidupnya, tak ada yang bisa Ara sebagai tempat keluh kesah serta tempat bermainnya, bagi Ayu, Ara selalu menjadi teman terbaik dalam hidupnya, ayu berusaha melupakan Ara, walaupun terkadang bayangan persahabatan mereka kerap menghantui pikirannya.

Tahun demi tahun berlalu, berkat kerja keras dan usahanya, Ayu berhasil bekerja menjadi auditor di salah satu cabang perusahaan multinasional yang berpusat di Singapura, Pekerjaan itu adalah hasil dari impiannya sejak kecil, meski membuatnya sibuk dan sering jauh dari keluarga.

Hingga suatu waktu Ayu disuruh atasannya untuk menyelesaikan masalah yang ada di cabang dengan di pusat, “Ayu besok kamu pergi ke singapura ya, katanya ada selisih data keuangan di cabang dan pusat besok kamu harus mengecek data tersebut, bersama tim finance.”

“siap pak” balas Ayu, “dadakan sekali sih perginya, kayak tahu bulat aja” kesal ayu dalam hati.

Suatu tiba di sebuah lobi gedung perkantoran singapura, Ayu bergegas untuk menuju rapat yang telah dijadwalkan, Saat itulah dia melihat seorang wanita yang tampak familiar sedang berbicara dengan sekelompok orang, langkah Ayu terhenti, matanya terpaku pada wanita itu.

“Apakah itu Ara? ucap Ayu dalam hati.

“Wanita itu melihat Ayu, dan mereka saling bertatapan, perlahan, wanita itu menghampiri Ayu dan tersenyum.

‘Halo, apakah kamu bernama Ayu? Teman kecilku dulu,’ tanyanya,

Ayu terdiam sejenak, lalu menjawab,  “Aiya… jawab Ayu, aku Ayu, Ayuu.”

Ara tiba tiba memeluk Ayu,

“Aku kangen Yuu, aku Ara, temanmu saat kecil.” mereka saling memeluk erat, perasaan yang bercampur antara kebahagiaan dan nostalgia memenuhi hati mereka.

“Kenapa baru sekarang?” tanya Ayu dengan suara bergetar, “Aku sudah menunggumu bertahun-tahun.”

Ara tersenyum lemah, “Aku tahu, Ayu, Hidup membawaku ke banyak tempat, Setelah ayahku selesai dengan pekerjaannya, aku memulai bisnis sendiri, aku sering bepergian ke Singapura untuk bertemu klien, tapi aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu di sini.”

Ayu mengangguk, berusaha memahami, setelah jam kerja, mereka memutuskan untuk duduk di sebuah kafe di dekat gedung perkantoran untuk berbincang, selama berjam-jam, mereka berbagi cerita tentang hidup masing-masing, tentang perjalanan karier, mimpi yang tercapai, dan kesulitan yang mereka lalui sendirian, ayu bercerita tentang dunia auditnya yang penuh tekanan, sementara Ara berbagi kisah tentang bisnisnya yang kini mulai berkembang di berbagai negara.

“Kenapa aku selalu merasa kehilangan?” kata Ayu tiba-tiba, suaranya lirih. “Padahal kamu ada di dunia yang sama denganku.”

Ara menggenggam tangan Ayu, “Aku juga merasakannya, Ayu, tapi sekarang kita sudah bertemu lagi., Tidak akan ada lagi kehilangan.”

Mereka bertukar kontak jejaring sosial, memastikan bahwa jarak dan waktu tidak akan lagi menjadi penghalang.

“Sampai jumpa, Ayu,” kata Ara, mengulang kalimat yang dulu ia ucapkan, namun kali ini, kata-kata itu bukanlah akhir, melainkan sebuah awal baru.

Ayu tersenyum, kali ini tanpa rasa sedih, “So long, Ara. Sampai jumpa, teman sejatiku.”

Di tengah kesibukan kota Singapura, dua sahabat yang pernah terpisah oleh waktu dan jarak akhirnya dipertemukan kembali, kini, mereka percaya So Long bukan berarti memiliki arti So Long.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *